May 9, 2013

0

Angkat isu sensitif, film-film ini picu kontroversi

  • May 9, 2013
  • Share
  • 1. Innocence of Muslims, 2011
    Innocence of Muslims hingga kini
    masih heboh diperbincangkan. Film
    yang dinilai menghina agama Islam
    dan Nabi Muhammad ini
    menimbulkan protes di berbagai
    belahan dunia hingga menimbulkan
    kerugian besar sampai jatuhnya
    korban jiwa sejak 11 September.
    Kantor Konsulat AS di Benghazi,
    Libya, misalnya, sampai dibakar
    dan menewaskan 4 orang,
    termasuk Duta Besar Christopher
    Stevens. Menteri Perkeretaapian
    Pakistan Ghulam Ahmad Bilour
    pada Sabtu lalu bahkan
    menawarkan hadiah sekitar 900
    juta Rupiah untuk orang yang
    berhasil membunuh pembuat
    Innocence of Muslims sambil
    mengajak Taliban dan Al Qaeda
    ikut bergabung dalam misi
    pencarian itu. Siapakah pihak di
    balik film itu? Adalah Nakoula
    Basseley Nakoula yang
    menggunakan nama samaran
    Sam Bacile, warga Southern
    California, Amerika Serikat. Setelah
    diperiksa oleh pemerintah federal
    Jumat (14/09) malam lalu, sampai
    sekarang Nakuola menghilang
    bersama seluruh keluarganya,
    meninggalkan rumah mereka di
    Cerrittos, Los Angeles.

    Menurut pengakuan para
    pemeran film berdurasi 13 menit
    itu, pada awalnya Innocence of
    Muslims bergenre drama dengan
    judul Desert Warriors. Film itu
    sendiri seharusnya bercerita
    tentang peristiwa kuno yang
    terjadi 2 ribu tahun lalu. Penulisan
    skrip berubah drastis. Jika saat
    syuting Muhammad disebut
    "Master George", setelah proses
    produksi pengisi suaralah yang
    berperan mengubahnya. Para
    pemain mengaku tidak tahu sama
    sekali jika film yang mereka
    bintangi akan jadi seperti yang
    mereka saksikan di YouTube.

    Di Indonesia sendiri akses menuju
    film Innocence of Muslims sudah
    ditutup berdasarkan Undang-
    Undang Nomor 11 Tahun 2008
    Tentang Informasi dan Transaksi
    Elektronik karena mengandung
    unsur yang menyinggung SARA.
    Walaupun begitu, sampai saat ini
    kita masih bisa melihat film ini
    melalui Google maupun YouTube
    karena sulitnya melacak film yang
    makin hari banyak diunggah orang.

    2. ? (Tanda Tanya), 2011
    Film karya Hanung Bramantyo
    yang rilis awal April tahun lalu ini
    mengangkat tema pluralisme
    agama, dan langsung mendapat
    kecaman dari beberapa pihak
    karena dinilai mendiskreditkan
    Banser yang dalam film
    digambarkan sebagai sosok yang
    mudah cemburu dan
    berpengetahuan sempit.
    Beberapa adegan dalam film pun
    dianggap terlalu sensitif, walau
    ada pula yang memilih bersikap
    netral dengan alasan tiap orang
    bebas menafsirkan makna film
    tersebut. Itu pulalah yang
    sebenarnya Hanung harapkan,
    sesuai dengan judulnya, ? (Tanda
    Tanya), Hanung ingin penonton
    menafsirkan sendiri pesan apa
    yang bisa dipetik dari film yang
    dibintangi Reza Rahadian dan
    Revalina S. Temat itu. Film ini juga
    sempat mendapat kecaman dari
    FPI hingga membuat penayangan
    perdananya di salah satu stasiun
    televisi swasta dibatalkan.

    Walaupun begitu, kontroversi film
    ini tidak sampai menimbulkan
    kerugian apalagi jatuhnya korban.

    3. Cin(t)a, 2009
    Cin(t)a berkisah tentang cinta
    beda suku dan agama antara
    Cina, mahasiswa 18 tahun beretnis
    Batak Cina, dengan Anissa,
    mahasiswi muslim Jawa berusia 24
    tahun. Di dalamnya banyak dialog
    cerdas yang membahas banyak
    hal, dari perkuliahan, kehidupan,
    hingga Tuhan. Film ini menegaskan
    bahwa Tuhan adalah karakter
    yang paling tak bisa ditebak. Dan,
    Tuhan dipercaya mencintai semua
    umat-Nya, termasuk Cina dan
    Annisa, tapi Cina dan Annisa tidak
    dapat saling mencintai karena
    mereka menyebut Tuhan dengan
    nama yang berbeda.

    Film garapan Sammaria
    Simanjuntak bersama para sineas
    independen Bandung ini juga
    langsung mengundang
    perdebatan dari beberapa pihak
    karena mengangkat tema yang
    sensitif, SARA, tapi juga sangat
    menarik karena isu sensitif ini
    dihadirkan dengan cerdas dan
    matang hingga berhasil
    mendapatkan Piala Citra untuk
    Skenario Asli Terbaik. Trailer film ini
    dikeluarkan awal April 2009
    melalui YouTube dan diputar
    perdana di London pada 29 Mei-
    nya. Dari beragam reaksi positif,
    reaksi negatif pun bermunculan,
    salah satunya yang menganggap
    film ini mendorong pernikahan
    antaragama.

    4. Fitna, 2008
    Masih ingat dengan film
    dokumenter Fitna karya Geert
    Wilders ini? Berbagai kalangan
    bersikap reaktif begitu Fitna
    muncul ke publik lewat internet.
    Tak cuma umat muslim, umat
    beragama lain dan banyak
    komunitas menyampaikan
    keprihatinan mereka. Belanda,
    negara tempat film ini berasal,
    otomatis jadi sasaran protes.
    Padahal, film ini sendiri juga
    mendapat kecaman di Belanda.
    Dalam film berdurasi 15 menit itu,
    cuplikan kejadian dari peristiwa
    penyerangan World Trade Center
    (WTC) di New York pada 11
    September 2001, pengeboman
    kereta api di Madrid, Spanyol
    (2004), pembunuhan Theo van
    Gogh (2004), sampai pidato para
    tokoh garis keras muslim
    dikompilasikan dengan selipan
    potongan ayat Alquran, sehingga
    kekejaman dan kekerasan terkesan
    identik dengan Islam.

    Film ini dibuat Wilders yang
    menganggap agama Islam
    berbahaya, sehingga orang harus
    lebih waspada. Kontan Fitna dinilai
    sebagai film propaganda yang
    memojokkan agama Islam lewat
    kutipan ayat Alquran yang
    digunakan tidak pada tempatnya.

    5. Da Vinci Code, 2006
    Film ini diangkat dari novel karya
    Dan Brown yang kontroversial,
    sehingga baik novel maupun film ini
    mengundang kecaman dari umat
    Nasrani. Menceritakan
    pembunuhan seorang orator
    museum yang berujung pada
    terungkapnya suatu misteri yang
    tak bisa diterima umat Nasrani,
    yakni bahwa Maria Magdalena
    adalah istri Yesus dan Yesus
    memiliki keturunan, film ini langsung
    mendapat bantahan dari berbagai
    pihak. Dari novel ini saja terbit
    puluhan judul buku yang isinya
    menyanggah penemuan Dawn
    Brown tersebut.

    Film ini digarap dengan kaidah
    sinematografi sehingga layak jadi
    tontonan, lepas dari penafsiran
    Dan Brown yang kontroversial.
    Ditempatkan sebagai hiburan,
    semua orang mungkin bisa
    menerimanya. Tapi, jika dilihat dari
    sudut pandang lain yang
    berpautan dengan keyakinan
    dasar seseorang, sepertinya harus
    dipikirkan ulang untuk
    mempercayai paparan Brown
    begitu saja. Toh, tiap orang
    memang punya sudut pandang
    dan kepercayaannya sendiri. Dan
    sebuah novel atau film seharusnya
    tak cukup kuat mengusik
    kepercayaan seseorang itu.

    6. Bad Wolves, 2005
    Film Bad Wolves garapan
    sutradara Richard Buntario ini
    sempat membuat Polda Metro
    Jaya melayangkan surat ke
    Lembaga Sensor Film karena
    menilai film action yang
    mengangkat kehidupan antargeng
    itu menyinggung SARA dan porno
    aksi, juga mempertontonkan cara
    mengisap shabu-shabu. Adegan-
    adegannya pun dinilai terlalu sadis,
    sarat dengan kekerasan. Sebagai
    tindak lanjutnya, LSF pun
    melakukan penyuntingan ulang film
    yang dibintangi Zack Lee, Ivan
    Gunawan, dan Sultan Djorghi itu,
    yang Richard nilai berlebihan.

    Namun, film ini tak sampai ramai
    dibicarakan masyarakat karena
    “gaung”-nya pun kurang
    terdengar.

    0 Responses to “Angkat isu sensitif, film-film ini picu kontroversi”

    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin