May 10, 2013

2

8 Pertanyaan klasik saat baru belajar fotografi

  • May 10, 2013
  • Share
  • Jakarta - Tren memotret meningkat pesat
    dalam 5 tahun terakhir. Jutaan frame
    dihasilkan per hari dan ini sulit dibayangkan 10
    tahun lalu. Teknologi kamera yang semakin
    murah dan software yang semakin memukau
    membuat hobi ini mencuat tidak terkira.
    Namun, bagi yang baru memulai pada
    kesenangan visual ini, biasanya berkutat pada
    pertanyaan-pertanyaan klasik berikut. Apa
    saja?

    1. Kamera apa yang paling bagus?
    Dari sisi kualitas gambar, tentu teknologi
    kamera medium format dan large format
    tidak ada yang mengalahkan. Namun, dari sisi
    kepraktisan dan bagi yang mau belajar
    fotografi, barangkali kamera jenis ini perlu
    Anda lupakan dulu.
    Pilihlah kamera Digital Single Lens Reflect
    (DSLR). Bentuknya yang simpel dan fitur yang
    mudah dioperasionalkan sangat cocok bagi
    siapa saja. Kamera saku juga tidak tabu untuk
    mempelajari fotografi.

    2. Merk kamera apa yang paling jago?
    Ini merupakan pertanyaan umum dan paling
    populer saat akan menerjuni dunia fotografi.
    Pertanyaan ini seperti Anda akan membeli
    mobil, merek mobil Apa yang paling bagus?
    Tentu semua punya karakteristik dan kelebihan
    masing-masing. Juga kelemahannya.
    Dengan plus minusnya, Anda sebagai
    fotografer lah yang mampu mengeksplorasi
    kelebihannya dan menutupi kekurangan
    kamera yang telah dibeli. Tidak perlu ragu bila
    merek kamera Anda jarang digunakan oleh
    teman-teman Anda.

    3. Dengan budget terbatas, kamera apa yang
    akan dibeli?
    Bila punya budget di bawah Rp 5 juta, belilah
    kamera saku yang sudah menyediakan fitur
    'Manual'. Fitur ini akan membantu Anda
    berkenalan dengan 'Speed' dan 'Diafragma'.
    Jangan ragu untuk membeli kamera poket.
    Karena semahal-mahalnya kamera, tidak bisa
    menunjukan angle terbaik saat memotret.
    Kamera juga tidak bisa menunjukkan komposisi
    terbaik maupun ide terbagus untuk memotret
    walau seharga Rp 200 juta sekalipun. Baik
    buruk hasil memotret ada di tangan
    fotografer.
    Bila uang Anda dalam kisaran Rp 5 juta hingga
    Rp 10 juta, coba cari kamera prosumer dengan
    tambahan lensa kit. Bila budget antara Rp 10
    juta hingga Rp 20 juta, cobalah pilih kamera
    semi profesional dengan pilihan lensa fix.

    4. Bagus mana, DSLR atau mirrorless?
    Dari sisi kepraktisan, kamera digital tanpa lensa
    (mirrorless) tentu sangat tepat. Kamera jenis ini
    akan sangat berguna untuk menemani Anda
    jalan-jalan karena fisiknya yang ringan dan
    ringkas. Kualitas gambar juga berani bersaing
    dengan kamera DSLR.
    Namun untuk memasuki dunia fotografi lebih
    expert lagi, ada baiknya memilih DSLR pada
    umumnya. Sebab, kecepatan menyimpan
    gambar ke memori card di kamera mirrorless,
    masih kalah cepat dengan kamera SLR pada
    umumnya. Terlebih baterai kamera jenis
    mirrorless cukup boros.

    5. Setelah beli kamera, beli lensa wide dulu
    atau tele?
    Bila Anda telah mempunyai pilihan untuk
    memotret landscape, maka lensa tele menjadi
    prioritas kedua. Bila masih mencoba
    bereksperimen, lensa tele tidak ada salahnya.
    Tele 200 mm sudah lebih dari cukup. Lensa
    tele ini sangat tepat untuk memotret model,
    olahraga, atau traveling.

    6. Lebih bagus mana, wide atau tele?
    Wide dan tele mempunyai fungsi dan
    kelebihan masing-masing. Satu untuk
    memotret dengan sudat pandang yang luas,
    satunya untuk mendekatkan objek yang jauh.
    Kalau punya budget cukup banyak, beli kedua-
    duanya langsung.

    Namun bila budget Anda terbatas, saya
    sarankan beli lensa wide (lebar) terlebih
    dahulu. Lensa lebar ini dalam kisaran 16mm,
    17mm, 20mm, 24mm, dan 28mm.
    Kalaupun budget masih juga belum
    mencukupi, Anda bisa maksimalkan lensa kit.
    Ada baiknya juga menabung untuk membeli
    lansa normal dengan diafragma (f) besar
    terlebih dahulu yang cukup terjangkau. Lensa
    normal ini yakni 50 mm. Disebut normal karena
    tidak menimbulkan distori gambar dan
    jangkauan lensa sesuai dengan mata manusia.

    7. Perlukah mengambil kursus fotografi
    ataukah otodidak?
    Kalau Anda mempunyai budget, tidak ada
    salahnya mengambil kelas fotografi. Sebab,
    Anda akan memahami fotografi secara
    sistematis dan terstruktur.
    Kalaupun enggan mengambil kursus fotografi,
    cobalah untuk tekun belajar, konsisten dan
    tidak cepat puas. Memasuki klub fotografi
    untuk bertukar pendapat soal fotografi sangat
    dibutuhkan juga dan sangat membantu
    fotografi Anda.

    8. Apakah perlu mengambil kursus software
    fotografi?
    Lebih baik Anda memperdalam kemampuan
    memotret terlebih dahulu pada bulan-bulan
    pertama. Bila merasa mulai piawai
    menggunakan kamera Anda, tidak ada
    salahnya mencoba memperdalam software
    fotografi.

    Kemampuan matang fotografi sangat
    diperlukan supaya Anda tidak terlalu
    mengandalkan software. Juga mematangkan
    ide, konsep dan praktik fotografi terlebih
    dahulu.
    Bahkan, saat ini tren olah digital sudah
    menjadi profesi tersendiri. Bukan tidak
    mungkin, suatu saat dunia olah digital akan
    lepas total dari dunia fotografi. Bila saat itu
    tiba, Anda akan diminta memilih menjadi
    fotografer ataukah 'oldiger'.

    2 Responses to “8 Pertanyaan klasik saat baru belajar fotografi”

    Febri Koplo said...
    Friday, May 10, 2013 at 6:04:00 PM GMT+7

    keren sob !! artikelnya

    Come Back


    M Ravi Firdaus said...
    Friday, May 10, 2013 at 6:24:00 PM GMT+7

    @Febri Koplo: ok trims atas kunjungannya! !


    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin