May 19, 2013

0

Misteri tongkat Bung Karno

  • May 19, 2013
  • Share
  • Berkali-kali Bung Karno berkata bahwa
    Tongkat Komando-nya tidak memiliki daya
    sakti, daya linuwih.."itu hanya kayu biasa yang
    aku gunakan sebagai bagian dari
    penampilanku sebagai Pemimpin dari sebuah
    negara besar" kata Bung Karno pada penulis
    Biografi-nya, Cindy Adams pada suatu saat di
    Istana Bogor.Bung Karno sendiri memiliki tiga
    tongkat komando yang bentuknya sama, satu
    tongkat yang ia bawa ke luar negeri, satu
    tongkat untuk berhadapan dengan para
    Jenderalnya dan satu tongkat waktu ia
    berpidato. Namun kalau keadaan buru-buru
    dan harus pergi, yang kerap ia bawa adalah
    tongkat sewaktu ia berpidato.

    Pernah suatu saat Presiden Kuba, Fidel Castro
    memegang tongkat Bung Karno dan
    bercanda "Apakah tongkat ini sakti seperti
    tongkat kepala suku Indian?" Bung Karno
    tertawa saja, saat itu Castro meminta peci
    hitam Bung Karno dan Bung Karno pake pet
    hijau punya-nya Castro. "Pet ini saya pakai
    waktu saya serang Havana dan saya jatuhkan
    Batista" kata Castro mengenai Pet hijaunya
    itu.
    Apakah tongkat Bung Karno itu memiliki
    kesaktian? seperti Keris Diponegoro "Kyai
    Salak" atau keris Aryo Penangsang "Kyai Setan
    Kober" wallahu"alam . Tapi Bung Karno sakti,
    itu sudah jelas. Peristiwa paling
    menggemparkan bagi publik Indonesia adalah
    saat Bung Karno ditembak dari jarak dekat
    pada sholat Idul Adha. Tembakan itu meleset
    dan ini yang jadi heboh, bagaimana bisa
    penembaknya adalah seorang jago perang
    terlatih, kenapa menembak dari hanya jarak 5
    meter tidak kena. Di Radio-radio saat itu saat
    sidang pengadilan penembak Bung Karno,
    terungkap saat Bung Karno membelah dirinya
    menjadi lima. Penembak bingung "mana Bung
    Karno" ?
    Kesaktian Bung Karno sebenarnya adalah
    "kesaktian" tiban, "tiban" adalah suatu istilah
    Jawa bahwa kesaktian itu tidak dipelajari.

    Waktu lahir Sukarno bernama Kusno, ia sakit
    keras kemudian diganti nama Sukarno. Setelah
    sehat, datanglah kakek Sukarno,
    Hardjodikromo datang dari Tulungagung
    untuk berjumpa dengan Sukarno kecil saat itu,
    sang Kakek melihat ada sesuatu yang lain di
    anak ini. Kakek Sukarno sendiri adalah seorang
    sakti, ia bisa menjilati bara api pada sebuah
    besi yang menyala. " Rupanya di lidah Sukarno
    ada kemampuan lebih yaitu mengobati orang,
    Sukarno dicoba untuk mengobati bagian yang
    sakit dengan menjilat-.
    Kakek Sukarno, tau bahwa ini kesaktian, tapi
    harus diubah asal cucunya jangan hanya jadi
    dukun, tapi jadi seorang yang amat berguna
    untuk bangsanya. Hardjodikromo adalah
    seorang pelarian dari Jawa Tengah yang
    menolak sistem tanam paksa Cultuurstelsel
    Van Den Bosch, ia ke Tulungagung dan
    memulai usaha sebagai saudagar batik.

    Leluhur
    Bung Karno dari pihak Bapaknya adalah
    Perwira Perang Diponegoro untuk wilayah
    Solo. Nama leluhur Bung Karno itu Raden
    Mangundiwiryo yang berperang melawan
    Belanda, Mangundiwiryo ini adalah orang
    kepercayaan Raden Mas Prawirodigdoyo salah
    seorang Panglima Diponegoro yang
    membangun benteng-benteng perlawanan
    antara Boyolali sampai Merbabu. Setelah
    selesainya Perang Diponegoro, Raden
    Mangundiwiryo diburu oleh intel Belanda dan
    ia menyamar jadi rakyat biasa di sekitar
    Purwodadi, mungkin akar inilah yang
    membuat ikatan batin antara Jawa Tengah
    dan Bung Karno. " Seperti diketahui Jawa
    Tengah adalah basis utama Sukarnois terbesar
    di Indonesia-.

    Mangundiwiryo memiliki kesaktian yaitu
    "Ucapannya bisa jadi kenyataan" istilahnya "idu
    geni". Rupanya ini menurun pada Bung Karno.
    Melihat kemampuan "idu geni" Bung Karno itu,
    Kakeknya Hardjodikromo berpuasa siang
    malam agar cucunya bisa memiliki kekuatan
    batin, pada suatu saat Hardjodikromo bermimpi
    rumahnya kedatangan seorang yang amat
    misterius, berpakaian bangsawan Keraton
    Mataram dan mengatakan dengan amat
    pelan "bahwa cucumu adalah seorang Raja
    bukan saja di Tanah Jawa, tapi di seluruh
    Nusantara". Kelak Hardjodikromo mengira
    bahwa itu adalah perwujudan dari Ki Juru
    Martani, seorang bangsawan Mataram paling
    cerdas.

    Sejak mimpi itu, kemampuan Bung Karno
    menjilat dan menyembuhkan langsung hilang
    berganti dengan "kemampuan berbicara yang
    luar biasa hebat".

    Bung Karno sendiri -menurut buku Giebbels,
    salah seorang Sejarawan Belanda- sudah
    diramalkan akan terbunuh dengan benda-
    benda tajam. Untuk itulah ia amat takut
    dengan jarum suntik, Bung Karno sendiri agak
    paranoid terhadap benda-benda tajam, ketika
    penyakit ginjalnya amat parah, ia menolak
    untuk berobat ke Swiss karena disana ia pasti
    akan dibedah dengan pisau tajam. Ia memilih
    obat-obatan herbal dari Cina.

    Kembali ke tongkat tadi, tongkat Bung Karno
    itu dibuat dari bahan kayu Pucang Kalak,
    Pohon Pucang itu banyak, tapi Pucang Kalak
    itu hanya ada di Ponorogo, pohon Pucang.
    Tongkat Komando Bung Karno sendiri dipakai
    sejak 1952, setelah peristiwa 17 Oktober 1952. -
    Suatu malam Bung Karno didatangi orang
    dengan membawa sebalok kayu Pohon
    Pucang Kalak yang ia potong dengan
    tangannya, balok itu diserahkan pada Bung
    Karno. "Untuk menghadapi Para Jenderal"
    kata orang itu. Lalu Bung Karno menyuruh
    salah seorang seniman Yogyakarta untuk
    membuat kayu itu menjadi tongkat komando.

    Sebagai tambahan dalam khasanah politik
    Indonesia, "ageman" atau pegangan itu soal
    biasa. Misalnya Jenderal Sumitro, tokoh utama
    dalam rivaalitas dengan Ali Moertopo pada
    peristiwa Malari 1974, sebelum meletusnya
    Malari kedatangan seorang anak muda
    dengan pakaian dekil dan menyerahkan
    sebilah keris "Untuk menang Pak" kata anak
    muda itu.

    Pak Harto sendiri punya ageman banyak yang
    bilang pusat kekuatan Pak Harto itu ada di Bu
    Tien Suharto, banyak yang bilang juga di
    "konde" bu Tien. Tapi yang jelas Pak Harto
    adalah seorang pertapa, seorang ahli
    kebatinan tinggi, ia senang tapa kungkum di
    tempuran (tempuran = pertemuan dua arus
    kali) di Jakarta ia sering sekali bertapa di
    dekat Ancol tengah malam, saat tarik ulur
    dengan Bung Karno antara tahun 1965-1967.

    0 Responses to “Misteri tongkat Bung Karno”

    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin