May 11, 2013

1

Sejarah warung angkringan

  • May 11, 2013
  • Share
  • Maraknya warung 'Angkringan' di Jakarta dan
    beberapa kota di tanah air, rupanya tidak bisa
    dilupakan begitu saja mengenai asal muasal
    tempat makan bersahaja yang pertama kali
    muncul di Yogyakarta sekitar tahun 1950-an
    ini.

    Berasal dari kata angkring atau nangkring
    yang dalam bahasa Jawa berarti duduk
    santai. Konsep warung ini berbentuk gerobak
    yang atasnya dilapisi dengan terpal atau
    tenda plastik. Ciri khas lainnya adalah warung
    makan Angkringan ini mulai beroperasi mulai
    siang hingga subuh dini hari.
    Warung makan yang dahulunya sebagai
    tempat beristirahat rakyat kecil yang
    umumnya berprofesi sebagai supir, tukang
    becak dan delman, seiring perkembangan
    waktu malah makin digemari oleh beragam
    lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa,
    seniman, pegawai kantor, hingga pejabat.

    Menu paling digemari dari warung
    Angkringan tentu saja adalah Nasi Kucing
    (yang dalam bahasa Jawa disebut Sego
    Kucing). Sebagai menu tambahan, biasanya
    ada disediakan tempe sambal kering, teri
    goreng, sate telur puyuh, sate usus, sate
    ceker, dan ikan bandeng. Sedangkan untuk
    minuman, umumnya menjual wedang jahe,
    susu jahe, teh manis, air jeruk dan kopi.
    Jika Anda berkesempatan ke Yogyakarta,
    Anda harus datang ke warung Angkringan Lik
    Man yang punya minuman spesial yaitu kopi
    joss. Yang membedakan kopi ini dengan yang
    lainnya adalah saat penyajiannya. Pada saat
    akan dihidangkan gelas kopi dicelupkan arang
    panas yang menimbulkan bunyi jossss.
    Lesehan
    Angkringan Lik Man yang berada di Jalan
    Pangeran Mangkubumi (sebelah utara Stasiun
    Tugu), Yogyakarta inilah yang banyak diminati
    oleh penduduk lokal maupun wisatawan.
    Sangking banyak peminatnya, maka jangan
    heran, jika Anda ke sana, banyak menemukan
    puluhan orang sedang lesehan karena area
    angkringan tersebut sangat sempit.
    Keberhasilan Warung Lik Man juga tidak lepas
    dari sang ayah, Pairo, seorang lelaki tua asal
    daerah Cawas, Klaten, Jawa Tengah.

    Tidak
    mendapati lahan subur yang dapat diandalkan
    untuk menyambung hidup, maka sekitar tahun
    1950-an mbah Pairo mengadu nasib ke
    Yogyakarta.

    Di awal kemunculannya, mbah Pairo tidak
    langsung mengunakan gerobak melainkan
    dipikul langsung olehnya. Perjuangan tidak
    kenal lelah itulah yang menghantarkan
    usahanya berhasil hingga saat ini, dan pada
    tahun 1969 usahanya diwariskan kepada
    anaknya Lik Man.

    Sangking banyak penggemarnya, warung
    Angkringan Lik Man kini telah dijadikan ikon
    wisata kuliner di Kota Gudeg tersebut.

    1 Responses to “Sejarah warung angkringan”

    Anonymous said...
    Saturday, May 11, 2013 at 9:17:00 AM GMT+7

    Hi there i am kavin, its my first occasion to commenting anywhere, when
    i read this piece of writing i thought i could also make comment due to this sensible piece of writing.


    Here is my website - Organization Suits And Clothing That You Require To Buy


    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin