May 14, 2013

1

Al-Quran sudah membicarakan soal facebok dari dulu

  • May 14, 2013
  • Share
  • Ahmad adalah seorang mahasiswa salah satu
    PTS di Jakarta dengan program studi
    Matematika. Seorang calon pengabdi
    masyarakat dengan ilmunya. Ahmad selalu
    berupaya mengaitkan Al-Qur’an dengan
    bidang studinya matematika. Ahmad sering
    berkutat dengan angka-angka dalam Al-
    Qur’an.

    Ahmad pun memulai diskusi. “Subhanallah Al-
    Qur’an itu bener-bener mukjizat. Saya pernah
    baca di Internet bahwa ternyata kata Yaum
    (hari) di dalam Al-Qur’an sebanyak 365 kata
    sama seperti jumlah hari dalam satu tahun,
    kata syahr (bulan) disebutin 12 kali sama kayak
    jumlah bulan dalam satu tahun, sab’u (minggu)
    disebutin 7 kali sama dengan jumlah hari per
    minggu. Belum lagi kata-kata yang berlawan
    kata. Misalnya ad dunya 115 kali, Al Akhiroh
    juga 115 kali. Malaikat 88 kali sedangkan asy
    syayathin 88 kali juga. Al hayat 145 kali
    begitupun dengan Al Maut yang juga 145 kali.

    Belum lagi angka 19 yang disebutin dalam
    alquran surat Al Mudatsir ayat 30. Sebetulnya
    masih banyak tapi mending antum liat di
    internet aja nafsi-nafsi, tinggal tanya mbah
    google ketik key word nya keajaiban angka
    dalam alquran,” Celoteh Ahmad sekaligus
    mengakhiri presentasinya.

    Tiba giliran Ranid memaparkan
    pengetahuannya seputar masalah mukjizat Al-
    Qur’an. Ranid memang sangat menyenangi
    diskusi-diskusi tentang kajian Islam berhubung
    program studi Ranid adalah bahasa Arab yang
    ia geluti di salah satu Ma’had Lughoh di
    Jakarta. Maka ia akan memaparkan
    sepengetahuannya tentang I’jazul Quran dari
    sudut pandang bahasa.

    Setelah mengucapkan basmalah seraya
    memuji Allah dengan hamdalah, serta sholawat
    kepada Nabi SAW. Ranid pun mulai berkata
    “Mumtaz! ustadz Ahmad mantep dah
    penjelasannya, giliran ane ya? Gini jadi
    mukjizat kalo diliat dari segi bahasa maka
    secara sederhana dapat diartikan sebagai
    'senjata' untuk melemahkan terhadap
    tantangan dakwah yang ada. Contoh di
    zaman nabi Musa AS berhubung waktu itu
    sihir sedang ngetrend-ngetrendnya maka Allah
    kasih mukjizat nabi Musa AS 'menyerupai' sihir,
    tapi bukan sihir, dengan tongkatnya yang
    terkenal. Bisa berubah jadi ular, ngebelah
    lautan, dsb. Trus di zaman nabi Isa AS
    berhubung waktu itu ilmu kedokteran lagi
    maju-majunya maka Allah kasih kepada nabi Isa
    AS mukjizat yang berhubungan dengan dunia
    pengobatan. Nah, di zaman Rasul SAW pada
    masa itu kaum jahiliyyah terkenal akan
    syairnya yang luar biasa Indahnya.

    Maka Allah
    pun memberikan kepada Nabi SAW berupa
    alquran sebuah mukjizat yang begitu sangat
    tinggi dan sarat akan nilai sastranya.”
    Ranid masih melanjutkan pemaparannya
    “bahkan Allah nantangin mereka kaum kafir
    untuk buat satu surat saja yang semisal
    dengan Al-Qur’an. Coba ente berdua buka Al-
    Baqarah ayat 23 'dan jika kamu meragukan Al-
    Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba
    Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat
    semisalnya dan ajaklah penolong-penolongmu
    selain Allah jika kamu orang yang benar,' dan
    dilanjutan ayatnya, bahwa Allah sudah kasih
    garansi, mereka pasti gak akan mampu
    ngebuatnya.
    Pernah ada kisah tentang Musailamah Al-
    Kadzdzab yang coba-coba buat Al-Qur’an
    tandingan. Salah satu suratnya niru-niru al-fiil.
    Dan surat gadungan itu ditertawakan banyak
    orang karena diliat dari sisi bahasa dan
    maknanya betul-betul jelek. Dan satu hal lagi
    cuma alquran kitab suci yang bisa dihafal oleh
    jutaan manusia walaupun manusianya itu
    sendiri pun tidak mengetahui arti Al-Qur’an.

    Bahkan uniknya juga, hafalannya tersebut
    lengkap sampai titik dan komanya. Subhanallah
    maha benar Allah dalam firmanNya 'dan
    sungguh Kami mudahkan Al-Qur’an untuk
    peringatan' Al-Qomar ayat 17,” Ranid pun
    mengakhiri makalah yang dibawakannya.
    Selanjutnya giliran Ilmi yang mendapat giliran
    menjelaskan mukjizat quran berdasarkan studi
    yang ia geluti. Ilmi adalah seorang mahasiswa
    IT di salah satu PTS di Jakarta. Berbeda
    dengan kedua orang sahabatnya tadi, Ikhwan
    lajang ini tengah mengerjakan tugas akhir
    dalam perkuliahannya. Hal ini dikarenakan Ilmi
    terlebih dahulu kuliah selepas SMA daripada
    Ahmad dan Ranid yang sempat menunda
    jenjang akademisnya.

    Lengkap dengan stelan kacamata khas para
    hacker di film Hollywood, Ilmi pun memulai
    pembicaraannya. “sebenernya ane belum mau
    mengatakan ini mukjizat atau gak? terus
    terang ane gak berani. Tapi salah satu point
    yang pernah ane dengar dalam seminar
    Qur’an bahwa kenapa Al-Qur’an disebut
    mukjizat tak lain dan tak bukan adalah karena
    kebenarannya dalam 'meramal' masa depan.
    Betul gak Ran?” Ilmi bertanya pada Ranid.
    Ranid pun mengiyakan pernyataan Ilmi
    dengan mengaggukan kepala, seolah tak mau
    kehilangan pemaparan dari Ilmi sahabatnya.

    Ilmi melanjutkan “surat Al-Lahab contohnya, di
    situ Allah memastikan bahwa Abu Lahab
    bakalan tetep kafir dan masuk neraka. Dan
    ketika surat itu turun di Mekkah, Abu Lahab
    ternyata masih hidup. Sekarang coba antum
    bayangin kalo seandainya Abu Lahab itu
    tergerak hatinya untuk masuk Islam atau pun
    pura-pura masuk Islam maka Al-Qur’an akan
    dipertanyakan kebenarannya dari dulu sampai
    sekarang. Ataupun di surat Ar-Rum di situ
    dijelaskan bahwa Romawi bakalan menang
    melawan Persia. Dan itu subhanallah terjadi
    beberpa tahun kemudian. Setelah pada
    peperangan yang sebelumnya Romawi kalah
    maka pada peperangan selanjutnya Romawi
    menang telak.

    Dan satu lagi peristiwa fathul Mekkah di surat
    Al-Fath. Allah memastikan kaum Muslimin akan
    memasuki Mekkah setelah sekian lama hijrah ke
    Madinah. Dan subhanallah hal itu terbukti.”
    Fenomena Al-Fisbukiyyah dalam Al-Qur’an
    “Ah itu mah dari aspek sejarah Mi, coba dari
    aspek IT sesuai sama studi ente?” Tanya Ranid
    seolah menantang Ilmi. “Weitss, tenang-tenang
    ane kan belum selesai jelasinnya, ana lanjut
    ya!” Jawab Ilmi. “Nah berhubung tadi ane
    bilang ana gak berani nyebut ini mukjizat atau
    nggak, maka ane akan bilang ini kehebatan
    Al-Qur’an.” Ilmi masih melanjutkan, sementara
    kedua rekannya Ahmad dan Ranid masih terus
    diam dan menyimak kata per kata yang akan
    terlontar dari mulut Ilmi. “ente berdua tau gak,
    bahwa sejak 1400 tahun yang lalu alquran
    sudah menyinggung tentang Facebook dan
    kawan-kawannya?!” Ahmad sang Cagur
    (Calon Guru) tertegun diiringi dengan tertawa
    kecil seolah tak percaya statmen Ilmi.

    Lain lagi
    dengan Ranid yang masih berpikir dan
    mencari-cari bahwa apakah benar kata
    Facebook ada di dalam Al-Qur’an. Dengan
    mencoba mentashrif pola-pola fi’il.
    Ilmi meneruskan kembali pemaparannya
    “Ahmad, coba ente berdua buka surat Al-
    Ma’arij ayat 19-21
    "'Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka
    mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia
    berkeluh kesah. Dan apabila mendapat
    kebaikan dia jadi kikir.'
    Ayat ini menjelaskan fenomena jama’ah "Al-
    Fisbukiyyah" secara umum. Coba ente-ente liat
    wirid-wirid mereka.
    Kebanyakan isinya keluh kesah. Temanya udah
    mirip sinetron mendayu-dayu sampai bikin air
    mata keluar. Sakit dari mulai bisul, cantengan,
    jerawat, sampai ayan di update di status.
    Cuaca juga gak ketinggalan. Dikasih hujan,
    ngeluh gak bisa ke mana-mana. Dikasih panas
    ngeluh kepanasan. Segala maksiat juga
    disebarin di muka umum. Masalah duit abis,
    rezeki seret terus dan terus di suguhkan.

    Ibadah juga ada beberapa yang dipublikasikan
    puasa, sedekah, tapi alhamdulillah ane belum
    menemukan ada orang yang lagi sholat
    update status 'lagi roka’at dua nih'
    naudzubillah kalo sampai ada!” canda Ilmi.
    Ahmad dan Ranid pun tertawa dan
    mengaminkan ucapan Ilmi. “Terus di ayat
    setelahnya dikatakan 'apabila dapat kebaikan
    maka ia kikir.' Ane rasa betul ayat tersebut.
    Coba ente berdua hitung ada beberapa orang
    yang update status semisal alhamdulillah dapet
    rezeki, buat yang mau ditraktir harap tunggu
    di depan masjid. Kira-kira ada gak status kayak
    gitu. Giliran dapat rezeki yang melimpah pada
    pelit gak mau orang lain pada tau, tapi giliran
    ditimpa musibah di share ke mana-mana.”
    “Ah, lo iri aja kali jangan sok jaim deh?!” Kali ini
    Ahmad yang bertanya kepada Ilmi. Ilmi pun
    menjawab “ane rasa jaim itu perlu, dalam
    konteks JAIM, Jaga-Iman berkaitan dengan hal
    malu, ane tidak mengharamkan update status,
    akan tetapi alangkah baiknya update-nya itu
    yang baik-baik pokoknya temanya mengajak
    kebaikan dari quran, hadits, sahabat, ataupun
    salafush sholih. Inget akh dalam hadits riwayat
    Bukhori dikatakan Jika kamu tidak malu, maka
    berbuatlah sesukamu. Ulama bilang bahwa jika
    kita udah gak malu sama Allah dan tidak
    merasa diawasinya maka tunaikan saja hawa
    nafsumu dan lakukan apa yang kau inginkan.”
    Jawab Ilmi.

    Ranid tak menyangka sahabatnya Ilmi dapat
    menarik dan mengaitkan surat Al-Ma’arij ayat
    20-22 dengan fenomena Facebookers yang
    bergentayangan di dunia maya. Alhamdulillah
    bertambah satu lagi pengetahuan Ranid pada
    hari itu. Sungguh Ranid sejatinya sudah sering
    membaca atau bahkan menghafalkan surat
    ini. Namun dikarenakan kurang men-tadabbur-i
    ayat ini, maka alangkah kagetnya ia
    mendengarkan penjelasan yang dipaparkan
    oleh sahabatnya Ilmi.

    1 Responses to “Al-Quran sudah membicarakan soal facebok dari dulu”

    arbi said...
    Tuesday, May 14, 2013 at 8:59:00 PM GMT+7

    Nice info.... visit back ya....


    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin