April 24, 2013

0

Kian Jarang, gerobak sapi di Yogya digemari untuk rekreasi

  • April 24, 2013
  • Share
  • [www.ravictory.blogspot.com]  ~ Gerobak yang
    ditarik dua ekor sapi saat ini makin
    sulit di jumpai. Daerah Istimewa
    Yogyakarta (DIY) pun hanya
    terdapat puluhan gerobak tersisa.

    Jumlah itu digabung dengan Jawa
    Tengah, maka ada sekitar 950
    gerobak
    Meski demikian, pemilik gerobak tak
    patah arang. Mereka di Yogya
    bahkan membentuk perkumpulan
    yang diberi nama "Langgeng Sehati"
    yang diketuai langsung oleh Sri
    Sultan Hamengku Buwono X.

    Salah satu anggotanya adalah Haji
    Latif Munir (40) warga Jejeran,
    Wonokromo, Kabupaten Bantul, DIY.
    Gerobak milinya adalah peninggalan
    dari orang tua, Mashud.

    Ketika masih jaya, gerobak sapi ini
    sebagai alat transportasi yang
    sangat dibutuhkan masyarakat. Kini
    gerobak ini tidak lagi sebagai alat
    transportasi untuk mengangkut
    material bahan bangunan, atau hasil
    panenan di sawah karena kalah
    dengan truk buatan Jepang.

    Uniknya fungsi gerobag sapi sudah
    berubah menjadi alat transportasi
    yang menekankan pada rekreasi.
    Seperti membawa pengantin, anak
    yang disunat, hajatan dan
    membawa turis untuk keliling desa
    wisata.

    "Kalau tidak ada order gerobag
    nganggur di rumah," kata Munir di
    sela-sela mengangkut pengantin di
    Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon,
    Bantul, DIY, Senin (22/4).

    Munir yang juga anggota polisi
    Polsek Piyungan Bantul ini mengaku
    senang merawat gerobak
    peninggalan orangtuanya. Ia
    meyakini gerobak mempunyai nilai
    budaya yang sangat tinggi.

    Saat dihitung gerobak, plus dua ekor
    sapi, genta enam buah dan asesoris
    lain bisa bernilai 80 juta rupiah.
    Maklum dua sapi saja sudah
    berharga Rp 47 juta.

    Moda Rekreasi

    Saat gerobak sapi kian jarang, situasi
    itu memberi keuntungan tersendiri
    bagi anggota polisi berpangkat
    Bripka ini. "Setiap pekan, pasti ada
    dua atau tiga yang menggunakan
    gerobag saya untuk hajatan. Saya
    tidak memasang tarif, diberi Rp 100
    atau 200 ribu saya tidak protes,"
    kata Munir bapak satu putri ini.

    Penghasilan yang paling besar ketika
    membawa turis keliling desa wisata.
    Ia mendapat bayaran Rp 700 ribu.
    Meskipun setiap hari menggunakan
    sepatu dalam bekerja sebagai polisi,
    namun ketika sebagai pilot gerobak--
    dijuluki bajingan-- dirinya tidak
    mengenakan alas kaki. "Ya biar lebih
    lincah dibanding dengan
    menggunakan alas kaki. Bajunya pun
    hitam dan harus mengenakan iket
    blangkon," katanya.

    Soal julukan bajingan, Munir tidak
    merasa terganggu. Alasannya kata
    itu memiliki kepanjangan  banguning
    jiwo ngen-ngen pangeran
    (bangunnya jiwa selalu ingat kepada
    Allah SWT) agar selamat dalam
    perjalanan.

    "Kalau yang tidak tahu akan marah
    dipanggil Bajingan. Tetapi dengan
    arti seperti itu kata bajingan itu
    sebetulnya maknanya baik," ujarnya.

    0 Responses to “Kian Jarang, gerobak sapi di Yogya digemari untuk rekreasi”

    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin