April 20, 2013

0

Fenomena seputar sumpah pocong

  • April 20, 2013
  • Share
  • Sumpah pocong yang konon merupakan tradisi
    masyarakat pedesaan adalah sumpah yang
    dilakukan oleh seseorang dengan kondisi
    terbalut kain kafan layaknya orang yang telah
    meninggal.

    Sumpah ini tak jarang dipraktekkan dengan
    tata cara yang berbeda, misalnya pelaku
    sumpah tidak dipocongi tapi hanya dikerudungi
    kain kafan dengan posisi duduk.
    Sumpah pocong biasanya dilakukan oleh
    pemeluk agama Islam dan dilengkapi dengan
    saksi dan dilakukan di rumah ibadah (mesjid). Di
    dalam hukum Islam sebenarnya tidak ada
    sumpah dengan mengenakan kain kafan
    seperti ini. Sumpah ini merupakan tradisi lokal
    yang masih kental menerapkan norma-norma
    adat. Sumpah ini dilakukan untuk membuktikan
    suatu tuduhan atau kasus yang sedikit atau
    bahkan tidak memiliki bukti sama sekali.
    Di dalam sistem pengadilan Indonesia, sumpah
    ini dikenal sebagai sumpah mimbar dan
    merupakan salah satu pembuktian yang
    dijalankan oleh pengadilan dalam memeriksa
    perkara-perkara perdata, walaupun bentuk
    sumpah pocong sendiri tidak diatur dalam
    peraturan Hukum Perdata dan Hukum Acara
    Perdata. Sumpah mimbar lahir karena adanya
    perselisihan antara seseorang sebagai
    penggugat melawan orang lain sebagai
    tergugat, biasanya berupa perebutan harta
    warisan, hak-hak tanah, utang-piutang, dan
    sebagainya.

    Dalam suatu kasus perdata ada beberapa
    tingkatan bukti yang layak diajukan, pertama
    adalah bukti surat dan kedua bukti saksi. Ada
    kalanya kedua belah pihak sulit menyediakan
    bukti-bukti tersebut, misalnya soal warisan,
    turun-temurunnya harta, atau utang-piutang
    yang dilakukan antara almarhum orang tua
    kedua belah pihak beberapa puluh tahun yang
    lalu. Bila hal ini terjadi maka bukti ketiga yang
    diajukan adalah bukti persangkaan yaitu
    dengan meneliti rentetan kejadian di masa lalu.

    Bukti ini agak rawan dilakukan. Bila ketiga
    macam bukti tersebut masih belum cukup bagi
    hakim untuk memutuskan suatu perkara maka
    dimintakan bukti keempat yaitu pengakuan.

    Mengingat letaknya yang paling akhir, sumpah
    pun menjadi alat satu-satunya untuk
    memutuskan sengketa tersebut. Jadi sumpah
    tersebut memberikan dampak langsung
    kepada pemutusan yang dilakukan hakim.

    Sumpah ada dua macam yaitu Sumpah
    Suppletoir dan Sumpah Decisoir. Sumpah
    Supletoir atau sumpah tambahan dilakukan
    apabila sudah ada bukti permulaan tapi belum
    bisa meyakinkan kebenaran fakta, karenanya
    perlu ditambah sumpah. Dalam keadaan tanpa
    bukti sama sekali, hakim akan memberikan
    sumpah decisoir atau sumpah pemutus yang
    sifatnya tuntas, menyelesaikan perkara.
    Dengan menggunakan alat sumpah decisoir,
    putusan hakim akan semata-mata tergantung
    kepada bunyi sumpah dan keberanian
    pengucap sumpah. Agar memperoleh
    kebenaran yang hakiki, karena keputusan
    berdasarkan semata-mata pada bunyi sumpah,
    maka sumpah itu dikaitkan dengan sumpah
    pocong . Sumpah pocong dilakukan untuk
    memberikan dorongan psikologis pada
    pengucap sumpah untuk tidak berdusta.

    0 Responses to “Fenomena seputar sumpah pocong”

    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin