-->

Tinggalkan Gaya Klasik, Busana Pria Kini Lebih Edgy & Variatif

Kaum pria modern saat ini semakin sadar fashion. Tak lagi ingin tampil monoton hanya dengan kemeja klasik, T-shirt dan celana tailor atau jeans. Tapi juga mulai tertarik untuk mengeksplor gaya agar lebih stylish dan fashionable.

Kecenderungan ini melahirkan ide-ide baru bagi para desainer mode untuk berani menampilkan busana pria yang lebih eksploratif. Pilihan menswear pun kini makin bervariasi.

Keberagaman itu tergambar dalam Indonesia Fashion Week 2013 hari ke-3 (16/0/2013), yang mengusung tema besar 'Menswear & Urban Wear'. Masih bertempat di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, beberapa desainer yang namanya sudah tak asing lagi di kancah mode maupun pendatang baru unjuk koleksi pria teranyar mereka.

Nama Ai Syarief cukup dikenal di dunia fashion sebagai pemerhati dan editor mode sejumlah majalah gaya hidup prestisius. Setelah 20 tahun berkiprah di media, pria berkacamata ini akhirnya memutuskan untuk alih profesi sebagai desainer. Karya perdananya hadir dengan tema 'Individualism' yang banyak terinspirasi dari gaya busana pria di berbagai kota di Eropa dan Asia.

Dalam merancang, Ai mengaku tidak mengikuti tren dunia. Juga enggan terpaku dengan kebakuan. Maka terciptalah rancangan busana edgy dengan padu padan tak biasa serta detail menarik. Misalnya kemeja lurik aksen pita di leher yang dipadankan blazer, coat dan short pants atau padanan blazer lengan pendek dan kemeja panjang. Koleksi didominasi gaya liburan dengan banyak short pants dan celana bermuda.

Berbeda dengan Ai Syarief yang menampilkan gaya casual, Vincentius Tjahyono dengan label Vincent Lee setia pada busana yang sejak 1995 diusungnya, yaitu tuxedo. Kali ini setelan formal pria untuk pesta itu hadir dalam warna-warna metalik yang futuristik dengan potongan simple dan elegan.

"Kaum pria masa kini ingin modis tapi di sisi lain tidak mau meninggalkan kemapanan dan jati diri," tutur Vincent.

Lain lagi dengan Tri Handoko dan Dave Hendrik yang berkolaborasi mendirikan label busana '3D'. Ide dari dua pemikiran yang saling kontradiktif justru menghasilkan rancangan unik, eye catching namun sangat wearable.

Koleksi yang diperuntukkan bagi pria modern ini simple, sangat urban dengan sentuhan retro klasik yang terinspirasi dari negara Barat. Terdiri dari kemeja kotak-kotak, permainan motif, celana bermuda, cropped pants dengan detail kantong dan patchwork, kemeja kerah asimetris serta jumpsuit bermotif.

Deden Siswanto for Pinot Noir hadir dengan koleksi ala Indiana Jones. Cardigan panjang, kemeja, capri jeans, coat, vest, short pants, bermuda serta T-shirt hadir dalam warna-warna army seperti hijau pupus, krem, cokelat, beige, hitam. Sementara itu Samuel Wattimena memberikan 'distorsi' pada busana berpotongan sleek dan minim detail. Distorsi berupa detail patchwork di beberapa bagian seperti bahu, lengan atau pinggul. Studs yang tampak seperti ikat pinggang pada jas, bordir bunga warna-warni di atas bahan polos serta detail tenun pada kemeja.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter