-->

Jam Tidur Berantakan? Bisa Jadi Ada yang Salah dengan Makanan Anda

Sudah menjadi rahasia umum jika apa yang dimakan oleh seseorang menunjukkan siapa orang itu sebenarnya. Namun ternyata menurut sebuah studi terbaru, apa yang mereka makan juga mempengaruhi pola tidur yang bersangkutan. Bagaimana bisa?

"Secara umum kita tahu bahwa orang-orang yang tidur selama 7-8 jam setiap malamnya memiliki kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik, lalu kami terdorong untuk bertanya, 'Apakah ada perbedaan pola makan antara mereka yang jam tidurnya lebih pendek, lebih panjang atau pola tidurnya standar?'" tukas peneliti Michael A. Grandner, Ph.D., dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology, Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania, AS.

Kesimpulan itu diperoleh setelah peneliti mengamati jumlah kalori dari makanan yang dikonsumsi setiap hari oleh partisipan National Health and Nutrition Examination Survey antara tahun 2007-2009.

Selain itu, peneliti juga mengumpulkan informasi tentang jumlah waktu tidur partisipan. Dari situ peneliti dapat mengkategorikan partisipan menjadi 4 kelompok: partisipan yang jam tidurnya 'sangat pendek' (kurang dari 5 jam semalam), 'pendek' (5-6 jam semalam), 'standar' atau normal (7-8 jam semalam) dan 'panjang' (9 jam ke atas dalam semalam).

Hasilnya, peneliti menemukan kaitan antara jumlah kalori yang dikonsumsi partisipan dengan seberapa lama waktu tidurnya. Partisipan yang paling banyak mengonsumsi kalori lebih cenderung memiliki jam tidur yang 'pendek'.

Namun uniknya, partisipan yang diketahui banyak mengonsumsi kalori berikutnya adalah partisipan yang jam tidurnya 'normal', baru kemudian partisipan dengan jam tidur 'sangat pendek' dan 'panjang'.

Tak hanya itu, peneliti juga mengidentifikasi kaitan antara waktu tidur dan tipe nutrisi yang mereka makan. Misalnya, partisipan dengan jam tidur 'sangat pendek' diketahui paling jarang minum air putih, serta konsumsi makanan berkarbohidrat dan zat yang dikandung dalam makanan berwarna merah dan jingga paling sedikit daripada partisipan lain.

Sedangkan partisipan dengan jam tidur 'panjang' dilaporkan kekurangan konsumsi zat yang ditemukan dalam teh dan cokelat, begitu pula dengan kolin (dari telur dan beberapa jenis daging) dibanding partisipan lainnya, tapi paling banyak minum alkohol.

Hal itu berarti secara keseluruhan partisipan yang jam tidurnya 'sangat pendek', 'pendek' dan 'panjang' mengonsumsi pola makan yang tidak sevariatif partisipan dengan jam tidur 'normal'. Namun peneliti mengaku tak tahu apakah mengubah kebiasaan atau pola makan dapat mempengaruhi pola tidur partisipan.

"Pertanyaan tersebut mendorong perlunya dilakukan studi lanjutan karena sepanjang yang kami tahu durasi tidur yang pendek erat kaitannya dengan penambahan berat badan dan obesitas, diabetes serta penyakit kardiovaskular," ujar Grandner seperti dikutip dari Huffingtonpost, Senin (11/2/2013).

"Di sisi lain kami juga tahu bahwa tidur terlalu lama pun bisa memunculkan konsekuensi kesehatan yang negatif. Tapi jika kami dapat menemukan kombinasi nutrisi dan kalori yang ideal untuk mendorong kualitas tidur yang sehat maka hal ini dapat berpotensi besar untuk mengurangi angka obesitas dan faktor risiko kardiometabolik lainnya," tutupnya.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter