April 28, 2013

0

Kualitas pendidikan terbaik itu ada di Finlandia

  • April 28, 2013
  • Share
  • [www.ravictory.blogspot.com] ~ Sudah pernah ke negara Finlandia? Sebuah negara kecil di
    Eropa dengan ibukota Helsinki, yang lebih dikenal karena
    produk ponsel ternama di dunia, Nokia. Dan, tahukah Anda?
    Negeri yang juga pernah menjadi tuan rumah perundingan
    damai antara Indonesia dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ini
    ternyata merupakan negara dengan peringkat pertama
    kualitas pendidikan terbaik di dunia, bukan Amerika Serikat,
    Jerman atau Jepang. Amerika Serikat bahkan hanya
    menduduki peringkat ke 17.

    Hasil ini diperoleh melalui survei internasional pada tahun
    2006 oleh Organization for Economic Cooperation and
    Development (OECD). Organisasi ini melakukan survey melalui
    sebuah tes yang diberi nama PISA (Programme for
    International Student Assesment) yang mengukur kemampuan
    siswa dalam bidang sains, matematika dan membaca. Yang
    lebih hebat lagi, negara ini tidak hanya mempunyai
    keunggulan dalam bidang akademis saja, tetapi juga bisa
    berhasil mendidik anak-anak lemah mental menjadi pintar dan
    cerdas secara akademis. Jadi, apa yang membuat Finlandia
    negara peringkat nomer satu di dunia?

    Anggaran pendidikan Finlandia memang tidak sebesar negara-
    negara lain di Eropa. Siswa disini tidak diberi jam tambahan
    belajar, seperti di Indonesia yang setiap mendekati ujian selalu
    ada jam tambahan belajar. Tidak menerapkan disiplin ala
    militer, tidak mencecar siswa dengan berbagai macam tes
    dan rata-rata jam belajar di Finlandia cuma 30 jam per
    minggu, kalah jauh dari Korea Selatan yang berada di
    peringkat kedua dengan rata-rata siswanya menghabiskan 50
    jam belajar per minggunya. Siswa di Finlandia mulai masuk
    sekolah umur 7 tahun, usia yang lambat dibanding negara-
    negara lain.

    Terus apa kunci sukses Finlandia dalam menyelenggarakan
    sistem pendidikan? Jawabannya terletak pada kemandirian
    siswa dan kualitas pengajar (Guru). Guru-guru disini harus
    mempunyai kualitas dan pelatihan metode kurikulum yang
    terbaik. Guru diberi keluasaan dan kebebasan untuk menyusun
    metode kurikulum yang sesuai dengan kemauannya.

    Walaupun gaji guru tidaklah terlalu tinggi atau kurang
    memadai, tapi profesi guru di Finlandia sangatlah dihormati
    dan dihargai oleh pemerintah dan masyarakat, selain itu
    mengajar adalah karir prestisius di Finlandia. Proses untuk
    menjadi guru juga sangat ketat, setelah lulus dari sekolah
    menengah, calon siswa terbaik langsung mendaftar di
    fakultas pendidikan. Dan yang diterima cuma 1 banding 7 atau
    hanya yang terbaik yang ditampung masuk di fakultas
    pendidikan calon guru. Tidak hanya sampai disitu saja, untuk
    diterima menjadi seorang guru, harus masuk peringkat 10
    besar di fakultas pendidikan.

    Kalau negara lain termasuk Indonesia menerapkan berbagai
    macam tes dan evaluasi nilai ujian untuk mengetahui kualitas
    pendidikan, Finlandia tidaklah demikian. Sistem pendidikan di
    negara ini tidak mengenal ujian semester bahkan ujian
    nasional. Setiap siswa diuji hanya untuk mata pelajaran yang
    dikuasainya saja dan diberi jadwal ujian sesuai dengan
    keinginan siswa tersebut. Dengan kata lain guru memberi
    otonomi khusus kepada setiap siswanya. Membuat suasana
    belajar jadi santai dan fleksibel, tidak ada rasa tertekan. Dan
    siswa yang lambat akan lebih banyak mendapat dukungan
    intensif.

    Dengan sistem inilah Finlandia berhasil berada di posisi teratas
    negara yang sangat berhasil dalam mengelola sistem
    pendidikan nasional. Angka drop out atau ketidaklulusan
    berkisar hanya 2 persen per tahunnya. Pemerintah Finlandia
    tidak pernah mengintervensi sistem kurikulum yang dibuat
    sendiri oleh guru. Karena guru bertanggung jawab penuh
    terhadap kurikulum yang disusunnya. Para guru juga tidak
    dibebani target untuk menyelesaikan bahan pelajarannya, tapi
    bahan pelajaran itu disesuaikan dengan kebutuhan setiap
    siswa masing-masing. Siapapun presiden dan menteri
    pendidikan Finlandia, walaupun selalu berganti, tidak akan
    berpengaruh terhadap sistem pendidikannya. Beda dengan di
    Indonesia, berganti menteri pendidikan ganti juga kurikulum,
    sampai buku pelajarannya. Karena sesungguhnya fungsi
    pemerintah hanyalah memajukan pendidikan dari segi legalitas
    dan finansial saja.

    Sistem ini sangat menguntungkan para guru disana, karena
    tidak terpengaruh dengan suasana politik apapun yang
    sedang terjadi dalam pemerintahannya. Pemerintah Finlandia
    menerapkan pendidikan gratis selama 12 tahun. Tidak ada
    jenjang SD dan SMP seperti di Indonesia, tapi 12 tahun lulus
    langsung mendapat ijasah setara SMU. Kalau di Indonesia
    setiap ganti pelajaran berganti guru, maka di Finlandia, setiap
    kelas akan diisi oleh 3 guru dan tidak pernah berganti. Dua
    guru difungsikan sebagai guru mata pelajaran sedangkan satu
    guru lagi sebagai pengawas dan pembimbing program studi.
    Jadi selama 12 tahun, 3 guru itu saja yang selalu menemani
    kita belajar. Waktu yang lama tersebut membuat guru sudah
    memahami karakter para siswanya. Guru juga dilarang
    mengkritik pekerjaan siswanya, karena akan membuat siswa
    malu. Jika salah, siswa diminta untuk membandingkannya
    dengan nilai dia sebelumnya, bukan dibandingkan dengan nilai
    siswa lain.

    Bagaimana dengan situasi pendidikan di Indonesia? Memang
    sangat jauh berbeda, pendidikan nasional kita masih dicampuri
    dengan urusan politik dalam negeri. Ujian Akhir Nasional yang
    dijadikan tolak ukur kelulusan siswa, malah membuat siswanya
    tertekan. Bahkan ada sekolah yang dijaga Polisi dan
    memasang CCTV saat ujian berlangsung, jelas sangat
    mengganggu psikologis siswa. Setiap menjelang ujian semester
    maupun ujian nasional, siswa dibebani tugas pekerjaan rumah
    yang menumpuk, yang malah mengganggu konsentrasi
    jelang ujian serta tambahan jam belajar atau les yang juga
    menguras energi bahkan kantong para orang tua. Begitulah
    cermin pendidikan kita, siswa tidak dididik untuk berkreasi
    sesuai kemauan mereka. Siswa terlalu ditekan tanpa bisa
    berkreativitas.

    Mengembalikan guru di posisi yang dihormati seperti jaman
    orang tua kita dulu sepertinya merupakan langkah awal yang
    baik. Dalam bahasa Jawanya Guru Digugu lan ditiru. Biarkan
    guru menyusun kurikulumnya sendiri tanpa campur tangan
    pemerintah. Gratiskan biaya pendidikan. Pos guru juga harus
    diisi dari lulusan terbaik, bukan dari tenaga honorer yang
    cuma modal jam terbang saja. Guru jangan hanya menuntut
    gajinya naik tiap tahun, tapi pastikan juga kinerjanya bagus.
    Mutu pendidikan yang rendah hanya akan menghasilkan
    generasi muda yang suka tawuran, hura-hura dan menambah
    pengangguran. Siswa yang tawuran adalah penyebab dari
    tertekan secara psikologis di kelas, akhirnya melampiaskan rasa
    tertekan mereka dengan tawuran. Tekanan hanya untuk
    menghasilkan sekadar nilai bagus lewat jalur ujian nasional
    harus dihilangkan. Walaupun UAN punya tujuan yang baik,
    menjadi standar kelulusan, tapi dilihat data di atas kita sudah
    tahu mana yang lebih bermutu, antara belajar dengan
    tekanan atau belajar yang menyenangkan.

    0 Responses to “Kualitas pendidikan terbaik itu ada di Finlandia”

    Post a Comment

    This Blog is DOFOLLOW, Well Please Comment and are not included in spam Thank You..

    Cheers,

    Admin